Babak belur dikeroyok, santri di Samarinda meninggal usai dirawat 5 hari

10
215

Babak belur dikeroyok, santri di Samarinda meninggal usai dirawat 5 hari

Babak belur dikeroyok, santri di Samarinda meninggal usai dirawat 5 hari

Muhammad Rifki Pratama (13), seorang santri salah satu pesantren di kawasan Sungai Kunjang, Samarinda, Kalimantan Timur, meninggal pagi tadi. Dia diduga jadi korban pengeroyokan rekan-rekannya di pesantren. Kasus itu kini diusut kepolisian.

Rifki mengembuskan napas terakhirnya saat menjalani perawatan RSUD AW Sjahranie, sekitar pukul 05.20 Wita tadi. Orangtua beserta keluarga Rifki, tidak bisa menutupi kesedihan atas meninggalnya Rifki.

Atas persetujuan keluarga, jasad Rifki diautopsi oleh forensik RSUD AW Sjahranie Samarinda tidak kurang 2 jam, untuk kepentingan penyelidikan kepolisian dan mengetahui penyebab kematian Rifki.

Ditemui di ruang jenazah rumah sakit, mata Santi (37), ibu kandung Rifki, terlihat bengkak usai menangis. Dia tidak menyangka, anak ketiganya itu, meninggal dunia setelah 2 hari sebelumnya, kesehatannya sempat pulih.

“Subuh tadi sebelum jam 5.20 itu, anak saya kejang-kejang, sampai akhirnya meninggal,” kata Santi, dalam perbincangan sore ini.

Dijelaskan Santi, Rifki, masuk perawatan rumah sakit sejak Rabu (28/3), setelah dia mendapat kabar sakit anaknya dari seorang ustaz di pesantren. “Anak saya itu bengkak di wajah, dan sakit terus di dadanya. Baru sadar sekitar Jumat (30/3),” ujar Santi.

Santi yang datang bersama keluarganya dari Kabupaten Kutai Timur, sempat mendengar cerita Rifki, kalau dia dipukuli dan dikeroyok teman santrinya di kelas II, di dalam kamar. Bahkan dugaan aksi penganiayaan itu berlangsung sekitar 2 pekan sebelum Rifki meregang nyawa. “Masalahnya tidak jelas Pak,” sebut Santi.

“Anak saya dipukuli bergantian. Ada 5 orang, dan di antaranya bergantian satu per satu memukuli anak saya. Makanya dadanya dia bilang sakit sekali. Bahkan anak saya, kedua matanya diperban karena bengkak,” ungkapnya.

Pilihan Redaksi  Ditarik jambret, Yulianti tewas usai jatuh dari motor dan diseret 12 meter

Namun takdir berkata lain. Setelah kondisinya sempat membaik pada Jumat dan Sabtu lalu, kondisi Rizki menurun drastis. “Jumat (30/3) malam kemarin, kami lapor polisi setelah dengar cerita anak saya. Intinya saya tidak menuntut pengelola pesantren, tapi tolong, pelakunya saya mau tahu,” jelas Santi.

Kasus itu ditangani Satreskrim Polresta Samarinda. Sejumlah petugas, terlihat meminta keterangan orangtua Rifki dan keluarganya, terkait kegiatan autopsi jenazah Rifki.

“Laporannya sudah kita terima. Kita masih lakukan pemeriksaan saksi-saksi, baik dari keluarga, dan pesantren. Sambil menunggu hasil autopsi,” kata Wakil Kasat Reskrim Polresta Samarinda AKP Ida Bagus Kade, dikonfirmasi terpisah.