Cobain Yuk, Pengalaman Petik Salak dan Kopi di Kebun Trawas

754
2193

Cobain Yuk, Pengalaman Petik Salak dan Kopi di Kebun Trawas

Kecamatan Trawas

Selain durian, Kecamatan Trawas, Mojokerto penghasil salak dan kopi. Bahkan di kawasan wisata lereng Gunung Penanggungan ini, para pengunjung juga bisa merasakan pengalaman memetik salak dan kopi langsung dikebun, sekaligus belajar menanamnya.

Pengalaman seru ini bisa dirasakan di Ubaya Edu Agrowisata. Ya, di dalam area Integrated Outdoor Campus (IOC) Kampus 3 Ubaya, Desa Tamiajeng, Trawas, kini terdapat 6 hektare kebun salak dan 1,5 hektar kebun kopi yang dibuka untuk wisatawan.

Destinasi wisata anyar ini, berdekatan dengan pos pendakian Gunung Penanggungan Tamiajeng. Sesuai dengan namanya, Edu Agrowisata menawarkan pengalaman memetik salak dan kopi langsung dari kebun.

“Wisatawan bisa petik dan makan salak di dalam kebun sepuasnya, bisa juga untuk dibawa pulang, harganya sama dengan salak di luar,” kata Rektor Ubaya Prof Joniarto Parung kepada wartawan di lokasi, Senin (12/3/2018).

Masuk ke agrowisata ini, pengunjung disambut pepohonan salak yang berjajar rapi. Salak yang berbuah bergerombol membuat tangan tak sabar untuk memetiknya. Jalan beralas baru kerikil, bakal menuntun pengunjung untuk menjelajah kebun salak seluas 6 hektare tersebut.

“Untuk kebun kopi kami punya 1,5 hektare, jenis Liberika. Kopi jenis ini banyak tumbuh di Trawas, rasanya lebih soft, masyarakat banyak suka,” ujar Joniarto.

Tak hanya memetik dan makan sepuasnya, di agrowisata ini pengunjung bakal diajari teknik menanam salak dan kopi yang benar. Setidaknya terdapat 5 jenis salak ditempat ini. Yakni salak Bali, Pondoh, Sidempuan, Gading dan Penjalinan.

Dengan cara ini, Joniarto berharap bisa menarik minat pengunjung untuk menanam salak di daerahnya masing-masing. Menurut dia, selain buahnya banyak digemari, pohon salak bermanfaat untuk konservasi air.

Pilihan Redaksi  Istri tak kunjung pulang, WN Australia ditemukan tewas gantung diri di rumah

“Salak tanaman yang bisa menahan air, makanya bibit salak banyak kami bagikan ke warga Trawas tujuan utama kami untuk konservasi air,” ungkapnya.

Untuk bisa menjajal pengalaman seru ini, pengunjung cukup membayar Rp 15-25 ribu per orang. Itu belum termasuk ongkos untuk membawa pulang buah tangan salak dan kopi.

Mampir ke tempat ini, rasanya belum lengkap jika tak menyambangi Ubaya penanggungan Center (UPC). Tempat ini menjadi pusat informasi ratusan situs purbakala yang ditemukan di Gunung Penanggungan.

Ratusan foto dari sekitar 150 situs purbakala peninggalan Airlangga dan Majapahit di Penanggungan, dipajang di dalam UPC. Seperti candi Pura, candi Putri, candi Sinta, candi Gentong, meja persajian, candi Wisnu, candi Guru, carik, lurah, candi Kendalisodo, candi Sadel, candi Kama II dan III, candi Kendali, punden berundak, altar tunggal, goa pertapaan, goa Buyung, serta goa Watu Tulis.

“UPC kami harapkan menjadi pusat informasi awal bagi masyarakat sebelum melihat langsung fisik purbakala di Gunung Penanggungan,” tandas Juniarto.