Muslim Cyber Army Berbau Politik Dibalik Kedoknya

9
267

Muslim Cyber Army Berbau Politik Dibalik Kedoknya

muslim cyber army

Muslim Cyber Army – empat orang yang terduga sebagai anggota MCA ©2018

 

Sepanjang Februari 2018, rakyat Indonesia diresahkan dengan isu penyerangan terhadap ulama. Isu tersebut berseliweran di media sosial dan sejumlah pemberitaan media.

Namun, tak semua isu tersebut benar adanya. Satgas Nusantara Polri telah menemukan sejumlah fakta terkait isu penyerangan ulama oleh orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang viral di media sosial. Hasilnya, dari 45 kasus yang diviralkan kelompok Muslim Cyber Army, hanya tiga peristiwa yang benar-benar terjadi.

Satgas yang dipimpin Irjen Gatot Eddy Pramono ini langsung terjun ke lapangan di wilayah hukum Polda Jatim, Polda Jateng, Polda DIY, Polda Jabar, Polda Banten, dan Polda Kaltim. Dari hasil penyelidikan, pengumpulan barang bukti, serta keterangan saksi dan ahli, polisi kemudian mengklasifikasi 45 isu penyerangan ulama itu menjadi empat kelompok.

“Pertama, yakni peristiwa yang betul-betul terjadi. Laporannya ada, korbannya ada, dan pelaku ada,” ujar Gatot.

Klasifikasi kedua, yakni peristiwa yang direkayasa dan diviralkan seolah-olah benar terjadi. Ketiga, yakni peristiwa tindak pidana umum dengan korban orang biasa, tapi diviralkan seolah-olah penyerangan ulama tersebut dilakukan orang gila terhadap ulama atau tokoh agama.

“Dan keempat, yakni peristiwa yang tidak terjadi sama sekali, tapi diviralkan seolah terjadi penyerangan ulama,” beber dia.

Dari 45 isu tersebut, lanjut Gatot, hanya tiga peristiwa yang benar-benar terjadi, antara lain penyerangan terhadap KH Umar Basri di Cicalengka, Jawa Barat, kemudian Ustaz Prawoto yang meninggal dunia, dan KH Abdul Hakam Mubarak di Lamongan, Jatim. Ketiganya diserang orang gila.

Empat peristiwa lainnya merupakan hasil rekayasa, seperti yang terjadi di Garut, dan Ciamis, Jawa Barat, kemudian di Kediri, Jawa Timur, dan di Kalimatan Timur. Kemudian enam isu lainnya, yakni peristiwa pidana umum yang dikaitkan seolah dialami ulama dan dilakukan oleh orang gila.

Pilihan Redaksi  Kim Jong-Un Melunak, Kabar Baik Bagi Perdamaian dua Korea

Sebanyak 42 lainnya merupakan berita hoax. Sebab, peristiwa yang diisukan tidak benar-benar terjadi. “Kalau kita lihat dari 45 ini, tiga peristiwa yang betul-betul terjadi. Sebanyak 42 sisanya hoax,” ucap Gatot.

Hasil penyelidikan Satgas Nusantara Polri juga menemukan bahwa isu yang didesain kelompok Muslim Cyber Army memiliki misi tertentu. Ada bau politis di balik hoax penyerangan ulama demi kepentingan Pilpres 2019.

“Dari semua yang disampaikan itu, kami ingin katakan bahwa apa yang dilakukan kelompok ini adalah motifnya politik,” kata Gatot.

Kelompok tersebut, Gatot menambahkan, berharap dapat mendegradasi pemerintah dengan isu yang disebar. Dengan isu tersebut, masyarakat akan dibuat resah, khususnya ulama dan pemuka agama.

“Akibatnya timbul ketakutan dan memicu perpecahan bangsa. Dapat memicu konflik ketika tidak bisa diatasi, muncul bahwa pemerintah tidak mampu. Hoax ini betul-betul berbahaya,” ujar Gatot.

Sejak akhir Februari 2018, Polri telah menangkap sejumlah tersangka kasus penyebaran hoax dan ujaran kebencian melalui media sosial. Para tersangka yang ditangkap diketahui tergabung dalam kelompok yang sama, yakni MCA.

Ada enam orang yang kini telah berstatus tersangka. Enam tersangka, yakni M Luth (40) ditangkap di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Riski Surya Darma (35) ditangkap di Pangkal Pinang, Bangka Belitung, dan Ramdani Saputra (39) ditangkap di Jimbaran, Bali.

Kemudian Yuspiadin (25) ditangkap di Sumedang, Jawa Barat. Ronny Sutrisno (40) ditangkap di Palu, Sulawesi Tengah. Dan Tara Arsih Wijaya (40) yang merupakan dosen di salah satu universitas di Yogyakarta ditangkap di Jawa Barat.

Yang terbaru, Bobby Gustiono alias BG (35) ditangkap di Serdang Begadai, Sumatera Utara pada Minggu 4 Maret 2018. BG merupakan salah satu orang penting di MCA. Selain sebagai admin, dia juga bertugas meretas akun-akun lawan.

Pilihan Redaksi  Marc Marquez Meremehkan Dovizioso adalah Sebuah Kesalahan

Polri memastikan terus mengusut kasus penyebaran hoax dan ujaran kebencian melalui media sosial hingga ke akar-akarnya.

“Siapa di balik ini semua, kami akan terus bekerja agar hoax fitnah yang dapat mengganggu keamanan nasional bisa kami hilangkan,” kata Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Fadil Imran.