Kisah Tukang Becak Asal RI yang Kini Sukses di New York

12
365

Kisah Tukang Becak Asal RI yang Kini Sukses di New York

Kisah Tukang Becak Asal RI yang Kini Sukses di New York

Tampil klimis, bersih, necis dengan bluetooth earphone yang nyaris tak pernah lepas dari telinga. Begitulah perawakan seorang Andri Suprayitno, seorang warga negara Indonesia yang kini tinggal menetap di New York, Amerika Serikat (AS).

Sesekali, ia melempar joke atau guyonan khas yang membuat deretan gigi putihnya terlihat. Sambutan hangat itu membuat saya melupakan cuaca dingin kota New York, 4 derajat Celcius, pada akhir pekan lalu. Tidak sekadar di awal pertemuan saat kaki di pintu keluar Bandara John F.Kennedy, namun sampai akhir petualangan empat hari di kota itu.

“Dulu saya bukan siapa-siapa,” kata Andri Suprayitno kepada trendingFinance saat ditemui di kawasan Brooklyn, AS, pekan lalu.

Dilahirkan di Malang dan dibesarkan di Bandung, Andri mewarisi darah perantauan sang ayah asal Padang, Sumatera Barat. Selepas lulus kuliah di STP-NHI Bandung, ia bekerja di sebuah restaurant di Dago Atas Bandung.

Sekaligus, dia sempat untuk ambil kursus pramugara. Tidak lain karena ia senang bekerja dengan haya travelling.

“Ketika kuliah, teman yang berada di Amerika, posting di ‘friendster’. Dia cerita mampu membeli mobil sendiri yaitu Minivan Caravan. Saya sangat terinspirasi dengan post tersebut dan saya akan mengikuti jejaknya,” ucapnya.

Mewujudkan mimpi lama itu, Andri kemudian mendaftarkan diri bekerja di AS pada situs online. Tak berapa lama, ia dinyatakan diterima dan memperoleh visa H2B atau nonagricultural and temporary job. Sebagai catatan, memperoleh visa ini tidak mudah karena seleksi ketat dari pihak kedutaan AS, apalagi dengan bahasa Inggris belepotan saat itu.

Dan petualangan sebenarnya dimulai ketika ia mendarat kali pertama di Denver, Oktober 2005. Ia sempat menjadi housekeeper dengan gaji $3.50 per jam. Lalu mengambil kerja sampingan sebagai busboy dan lain waktu sebagai waiter.

Pilihan Redaksi  Negara Yang Diprediksi Bisa Punah, Apakah Indonesia Termasuk?

Pada 2009, setelah ia memperpanjang visa, ia kembali ke AS dan bekerja sebagai juru masak khusus sarapan pagi di New Orleans. Malam harinya, ia nyambi di bagian vallet parking.

“Sangat membosankan karena saya stay di area parkir 8 jam. Tetapi kesukaannya, saya mengendarai mobil mewah seperti Hummer, Ferarri dan Lamborghini,” tandasnya.

Setahun kemudian, ia pindah ke New York, masih dengan pekerjaan yang sama menjadi pelayan restauran. di Kota ini pula, ia sempat nyambi sebagai penarik becak (pedicab wheels) di kawasan Central Park.

“Pekerjaan paling sehat, tidak polusi, menyenangkan dan hasilnya lumayan,” kata Andri.

Karirnya mulai berubah ketika ia banting stir dengan bergabung bersama biro travel setempat. Ia mulai mengenal banyak orang dan melihat celah bisnis yang lebih luas. Andri mengubah pekerjaan yang dulunya berbasis keterampilan dan jasa, lalu beralih kepada keahlian, pelayanan, jaringan, dan lobi-lobi.

Lagi-lagi, Andri tidak puas dengan bekerja kepada orang lain. Pada 2016, ia memilih untuk usaha sendiri menjadi agen perjalanan dengan modal US$3.000.

“Untuk down payment kendaraan mini van dan pembayaran surat izin pembuatan company di US,” kata Andri bersemangat.

Saat ini, ia memiliki klien dan pelanggan dari berbagai segmen. Dari kalangan turis biasa, para bos perusahaan ternama di tanah air, artis dan sutradara film, tamu konsulat KJRI, sampai mengantar menteri yang sedang kunjungan kerja ke negeri Paman Sam. Namun, ia tak membeda-bedakan tamunya.

“Bagi saya, semua tamu VVIP. Service sama. Ke mana saja ayo. Dan yang pasti, rahasia dijamin,” ucap pria yang masih single ini.

Rahasia yang ia maksud adalah lokasi tujuan, nama-nama rombongan dan apa-apa saja yang terjadi dalam perjalanan itu. Sebab, tidak bisa dipungkiri, lokasi maupun apapun yang terjadi dapat menjadi isu sensitif atau dapat merusak reputasi tamu di tanah air.

Pilihan Redaksi  Banda Aceh Masih Jadi Dominasi Kunjungan Wisman Turis Malaysia

“Saya yang nganter Annisa Hasibuan (bos First Travel yang sedang diadili di PN Depok) keliling New York. Andika (suami Annisa) juga saya. Setelah kasusnya meledak, saya ditelpon wartawan-wartawan Indonesia ingin tahu lokasi, gaya hidup dan tempat-tempat yang disinggahi. Saya bilang, maaf saya nggak bisa menjawab. Itu rahasia klien. Tidak bagus buat bisnis (kalau dibuka),” kata Andri.

Dengan menjaga prinsip kepercayaan tersebut, ia semakin berkibar dan yakin mampu menundukan New York. Tentu, tanpa harus lupa kacang akan kulitnya, mengenang masa-masa sulit satu dekade silam.

“You are not going to appreciate your success if you never started from below. (Anda tidak akan menghargai kesuksesan jika Anda tidak pernah memulainya dari bawah),” ujar Andri.

Selain menjadi tukang becak, Andri Suprayitno juga sempat mencoba menjadi pemain figuran untuk film serial di televisi. Dengan lokasi shooting di New York, bayarannya mencapai US$ 185 untuk tampil 1 detik !

“Ini bukan film layar lebar, lebih ke Amerika TV series,” kata Andri.

Awalnya, ia iseng mencari uang tambahan. Di mesin pencari internet, tertulis sutradara sedang mencari pemeran figuran berwajah Asia. Ia pun mencoba dan dipanggil ke lokasi film bersama sejumlah talent lain.

“Kerjanya cuma 5 menit, tetapi standby selama 8 jam. Bebas ngapain, yang penting saat dibutuhkan ada. Setelah tampil di film, tidak lama, paling cuma 1 detik,” imbuh Andri.

Dia masih ingat drama TV itu dibintangi aktris ngetop Hollywood Margot Robbie.

Mendapat bayaran cukup lumayan, ia kembali mendaftar sebagai pemeran figuran di serial TV Elementary dan Law and Order. Lagi-lagi, tampil tidak lama namun dengan bayaran cukup tinggi. Ukuran tinggi ini, setidaknya dibandingkan dengan pekerjaan awalnya di AS yakni menjadi housekeeper yang digaji US$3,50 perjam.

Pilihan Redaksi  11 Tewas tenggak miras oplosan, polisi periksa 4 saksi dan menutup toko

“Di sini, semua pekerjaan dihargai. Mau jadi pencuci piring, pelayan restauran, sampai dog walker, bisa untuk hidup,” kata Andri.

Saat ini, Andri merupakan salah satu imigran AS asal Indonesia yang terbilang sukses. Ia mempunyai bisnis travel dengan pelanggan para artis, bos perusahaan swasta hingga pejabat. Masih banyak Andri-andri lain yang jumlahnya tak sedikit.

“Lahir dari keluarga middle class saya tidak banyak mendapatkan privilege untuk melakukan apapun yang saya impikan. Ini menjadikan saya motivasi yang besar untuk mencapai cita-cita saya dengan usaha dan restu dari orang tua,” pungkasnya.

Andri Suprayitno di New York