Bali Kok Turun Peringkat di Daftar Destinasi Top Dunia?

5
269

Bali Kok Turun Peringkat di Daftar Destinasi Top Dunia?

Bali Kok Turun Peringkat di Daftar Destinasi Top Dunia?

TripAdvisor telah merilis 25 destinasi wisata terbaik dunia tahun 2018. Bali yang menempati peringkat pertama tahun lalu, kini turun menempati posisi ke-4.

Situs informasi traveling dunia, TripAdvisor setiap tahunnya mengadakan Travelers Choice Award, di mana salah satu kategorinya adalah Top 25 Destinations. Pemilihannya berdasarkan kuantitas dan kualitas dari review traveler serta rating selama periode 12 bulan.

Tahun ini Bali menempati posisi ke-4 destinasi top dunia. Posisi ini turun 3 peringkat dari tahun 2017 lalu di mana Bali menjadi nomor 1 destinasi top dunia. Beberapa alasan bisa menjadi penyebab turunnya peringkat tahun ini.

“Waktu 2017 tahun lalu itu menanjak karena memang kampanye kita akan cukup tinggi di luar negeri sehingga brand kita dengan Kementrian naik. Mungkin jadi nomor satu, habis itu merosot. (Peringkat TripAdvisor) ini harusnya mengevaluasi kita,” ujar Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Prof Azril Azahari PhD dalam obrolan via telepon dengan trendingTravel, Rabu (21/3/2018) sore kemarin.

“Intinya sebenarnya kita jangan mengarah pada mass tourism. Dulu saya pernah bilang ada 3S, sun, sand and sea itu udah bergeser sekarang menjadi 3S juga, serenity, spirituality, dan sustainability,” imbuhnya.

Azril mengatakan bahwa treveler mulai banyak yang tak hanya menikmati alam, tapi juga budaya di destinasi yang dikunjunginya. Sejarah dan budaya, keotentikan dan keunikan suatu destinasi tentunya dapat menarik banyak turis buat berkunjung.

“Kalau kita lihat apa yang sebenarnya mereka inginkan, itu kan pengalaman. Misalnya dia ingin exploring dari pada suatu ikon. Apasih yang menonjol di sana, isinya yang kaya terhadap dua hal, history sama culture. Sekarang mengarah bukan alam lagi tapi budaya. Nah budaya inikan bisa makanan dan lain sebagainya,” jelas Azril.

Pilihan Redaksi  4 Tipe Perselingkuhan Berdasarkan Kadar Keterlibatan Emosional

“Kayak makanan juga, rempah, kan spices dipakai semua di luar negeri kenapa nggak itu yang diangkat sejarahnya,” tambahnya.

Ia mencontohkan destinasi-destinasi yang kini peringkatnya di atas bali dalam Top 25 Destinations versi TripAdvisor. Paris misalnya, daerah ini menurut Azril mengedepankan taman-tamannya yang indah, kafe dan kulinernya.

Kalau London, memiliki aneka museum besar yang menampilkan sejarah dan budaya setempat bahkan dunia, begitu pula fashionnya. Sementara Roma juga menarik turis dengan sisi historisnya. Untuk Ubud misalnya, traveler pun sudah begitu tertarik dengan budaya setempat.

“Dari artistic capital of Ubud, bagaimana artistic capital, lukisan segala macam budayanya kuat sekali di Ubud, culturenya, makanya masih bertahan kita di sana walaupun memang pantai segala macam masih. Kita lihat Greece, Barcelona, itukan kulturnya sama sejarah,” kata Azril.

Traveler yang datang tentunya mencari pengalaman menarik yang bisa dirasakan dan diceritakan kembali ke kerabatnya usai liburan. Hal-hal seperti wisata yang melibatkan pengalaman lebih kepada turis pun menarik dikembangkan.

“Ini pernah saya lakukan. Misalnya begini, Tari Kecak selama ini kan orang asing nonton Tari Kecak. Sekarang tidak (hanya menonton), Tari Kecak itu diajarkan (ke) orang asing, dia belajar tarian itu,” tutur Azril.

“Jadi itu yang disebut experience, pengalaman dia belajar Tari Kecak. Dia senang walaupun hanya diajarkan sebentar. Kayak angklung di Mang Udjo, orang asing kan tamunya ikut belajar, itu suatu experience yang paling bagus. Jadi si wisatawan ikut berpartisipasi di dalamnya, dia menjaga, ikut belajar dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Adanya bencana alam seperti erupsi Gunung Agung yang terjadi mungkin sedikit banyak mempengaruhi review traveler. Namun dampaknya hanya sesaat. Setelahnya pariwisata kembali normal.

Pilihan Redaksi  Payudara Bocah Laki-laki Tumbuh Karena Sering Pakai Essential Oil

“Bencana ada dampak tapi sesaat. Setelah itu ndak ada masalah,” ujarnya.

Menurut Azril perkembangan pariwisata Bali kini sudah semakin baik. Namun memang sebaiknya budaya dan historis bisa lebih diangkat lagi. Begitu pula quality tourism.

“Tidak mass tourism tapi quality tourism. Quality itu mengarah ke tangible tourism. Jadi tidak ke fisiknya, tapi kepada tangible, makna dari pada historis sejarahnya, makna dari arkeologinya, geografinya dan lain sebagainya,” pungkasnya.